………………………………………………….::: soul . heart . mind .

Méugang

Masyarakat Aceh memiliki sebuah tradisi unik untuk menyambut datangnya bulan suci Ramazan. Tradisi tersebut lazim disebut dengan Méugang atau Makméugang. Baik Méugang maupun Makméugang keduanya memiliki makna yang sama, yaitu hari menyembelih hewan. Tradisi tersebut adalah sebagai ungkapan kegembiraan kaum muslimin Aceh atas kedatangan bulan suci Ramazan.

Ummat Islam di beberapa daerah di Nusantara mempunyai tradisi tersendiri untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramazan. Masyarakat Islam di Riau dan Sumatera Barat menyambutnya dengan mandi berlimau, di Jawa popular dengan tradisi mandi menyucikan diri atau padusan manakala masyarakat Betawi masih kental dengan tradisi mandi keramas (membasuh rambut) dan ziarah rumah keluarga lebih tua serta makam keluarga terdekat.

Ribuan ternak sapi, kerbau, dan kambing disembelih untuk kebutuhan daging dalam tradisi Meugang ini. Hal ini juga dilakukan di dinas-dinas pemerintahan, perusahaan swasta, organisasi sosial kemasyarakatan, khusus menyediakan paket daging meugang bagi karyawan/anggotanya. Ada yang melaksanakannya pada méugang uroe phôén (hari pertama), yakni dua hari menjelang Ramazan, atau pada méugang uroé kéudua yaitu sehari menjelang Ramazan.

Kewajiban membeli daging meugang oleh seorang menantu laki-laki untuk diantar ke rumah mertuanya, di samping untuk keluarganya sendiri, juga adalah suatu tradisi yang unik. Meugang juga bisa menjadi ajang reuni keluarga.

Pada hari meugang, boleh dibilang hampir seluruh masyarakat Aceh “wajib” menyantap daging sapi, kerbau, atau kambing, yang dimaksudkan untuk menambah kekuatan fisik menghadapi puasa sebulan penuh. Bahkan, sebagian daging meugang yang tersisa juga dikeringkan hingga tahan lama –menjadi dendeng, daging kering, daging rebus (sié réubôéh cuka), dan lain-lain– untuk bekal lauk sahur atau berbuka.

Selain gulai daging sapi atau kambing, pada hari meugang juga dihidangkan kue-kue tradisional. Tak terkecuali kue timphan, yang dibuat dari tepung ketan, santan, dan berinti asoé kaya (adonan srikaya) yang cukup bergizi, karena kandungan telurnya.

Bagi mahasiswa dan pelajar yang tinggal atau sedang bersekolah di perantauan, biasanya mereka menyempatkan pulang kampung pada hari-hari meugang dan awal Ramazan. Khusus untuk menikmati masakan daging khas Aceh (sié masak putééh, sié masak mirah, dan sebagainya) serta kue timphan bikinan keluarga.

Namun, jika tidak memungkinkan bagi mereka untuk pulang ke kampung, biasanya kerinduan mereka terobati dengan kiriman daging kering serta kue-kue tradisional dari orangtua di kampung. Terutama timphan asoé kaya yang dibuat lebih tahan lama. Tak terkecuali bila si anak hanya merantau di luar kota (tapi masih di Aceh).

Kiriman ini biasanya datang menjelang Ramazan (untuk bekal menyambut Ramazan), pertengahan, atau di akhir Ramazan (menjelang hari raya ‘Iedul Fithri). Tradisi kiriman dari kampung ini di kalangan mahasiswa/pelajar Aceh di perantauan, populer dalam ungkapan bait yang menggugah:

”Uroé goét buléuén goét, timphan Mak péugoét béuméutéuméung rasa”

artinya: “Hari mulia bulan mulia, timphan bikinan Ibu mesti dapat dicicipi”


Dari berbagai sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: